nihon no bunka

『Sakuramochi』

Kue yang berasal dari Eropa disebut yogashi, sedangkan yang ala Jepang disebut wagashi. Wagashi sering dinikmati bersama teh hijau yang pahit sehingga banyak yang di buat betul~betul manis. Belakangan ini, makan wagashi tanpa mereguk teh hijau yang pahit juga disukai banyak orang. Akhir~akhir ini wagashi banyak yang tidak begitu manis.

Lainnya yogashi, banyak jenis yogashi yang dibuat tergantung pada musim. Wagashi yang paling popular pada musim semi adalah sakuramochi. Salah satu jenis wagashi yang banyak dibikin dari ketan dan anko adalah sakuramochi ini. Kendati dikatakan ketan, anko tersebut dibalut dengan campuran tepung beras ketan dan sedikit tepung terigu. Bagian luarnya berlapis daun sakura yang sudah direndam dengan air bergaram. Biasanya pembalut ini menjadi berwarna seperti warna sakura. Anko merupakan koshian yang halus dan bukannya tsubuanko yang masih ada butiran kacang merahnya.

Didepan kuil Choomeiji disamping Asakusa, Tokyo terdapat toko kue “Yamatoya” yang menjual sakuramochi yang disebut sakuramochi choomeiji yang sangat terkenal. Kalau biasanya sakuramochi berlapis sehelai daun sakura, sakuramochi choomeiji berlapis dua helai. Karena rasa keasin~asinan pada daun sakura serasi dengan manisnya sakuramochi, banyak orang yang menyantap sakuramochi tanpa mengupas daun sakuranya. Namun, karena dikatakan lebih baik sejumput keharuman dari daun sakura tersebut, agaknya banyak orang yang makan sakuramochi choomeiji dengan mengupas pembalutnya.

Dari pandangan ini, lahirlah lelucon sebagai berikut. Kuil choomeiji menghadap ke Sungai Sumida. Pada suatu hari, seorang nenek duduk disebuah bangku yang ditempatkan dipinggiran sungai tersebut sambil menikmati sakuramochi bersama kulitnya. Datanglah seorang yang suka mengurusi orang lain ke tempat itu dan berkata kepada sang nenek, “sakuramochi ini lebih enak rasanya apabila dimakan dengan cara kawa wo muite”. Nenek yang mendengar itu mengubah arah duduknya menghadap ke sungai dan melanjutkan makan. “kawa wo muite dalam bahasa Jepang dapat diartikan menghadap ke sungai”. Atau “mengupas kulit” yang yang dibedakan dari penulisan kanjinya 『川⇒kawa=sungai, 皮⇒kawa=kulit』

『Ainu』

Dulunya Hokkaidou adalah negeri orang Ainu. Orang Ainu menjalani kehidupan di Hokkaidou dengan cara berburu di rimba dan menangkap ikan di laut. Mereka juga pernah berdiam di “Karafuto” (nama Rusianya Sakhalin). Bisa diperkirakan dari banyaknya bahasa Ainu yang digunakan sebagai nama tempat sekarang, pada masa silam mereka pun menetap di Honshuu. Namun, dewasa ini orang Ainu di Hokkaidou hanya tersisa 15.000 orang saja.

Ainu berarti “orang”. Suku yang disebut “orang” merupakan sesuatu yang jarang sekali ada. Tidak bisa diketahui dengan pasti dari mana mereka berasal. Tidak hanya ilmuwan Jepang, tetapi juga ilmuwan dari luar negeri juga tertarik melakukan penelitian terhadap Ainu. Ilmuwan Inggris yang melakukan penelitian terhadap Ainu pada parohan ke dua abad ke~19 menyatakan bahwa terdapat kemiripan tengkorak mereka dengan orang Eropa. Dewasa ini berbagai penelitian dilaksanakan dalam bidang arkeologi dan antropologi yang melahirkan teori baku bahwa orang Ainu termasuk ras Mongol yang sangat tua.

Yuukara merupakan syair panjang Ainu yang memuat bermacam~macam cerita seperti kehidupan suku Ainu dulu, peperangan dan lain sebagainya. Lantaran dulunya Ainu tidak memiliki huruf, anak~anak ingat dengan yuukara dengan mendengarkannya dari orang tua. Kemudian, setelah dewasa, yuukara diajarkan lagi kepada anak~anaknya. Namun, sekarang ini orang yang banyak ingat yuukara hamper tidak ada. Ini sangat disayangkan karena dari yuukara bisa diketahui mengenai kehidupan, perayaan, dan cara berpikir orang Ainu.

Masyarakat Ainu tinggal di kotan yang berarti “dusun” dalam bahasa Ainu. Tentu saja, tidak ada lagi kotan yang hanya di huni oleh orang Ainu. Ditempat yang mirip kotan, mereka memperagakan tarian dengan mengenakan pakaian dulu, mempertunjukkan perayaan, dan menjual ukiran sepasang orang Ainu dan ukiran beruang di toko barang kerajinan untuk pelancong yang datang dari berbagai daerah.

Budaya Ainu yang sesungguhnya kian menghilang lewat asimilasi dengan orang Jepang. Tahun~tahun belakangan ini meningkat aksi yang meminta pengakuan secara hokum atas hak pribumi ditingkat Internasional. Di Jepang pun, kendati agak terlambat, pada tahun 1997 ditetapkan “UU Pengembangan Budaya ainu” yang bertujuan untuk “mewujudkan masyarakat terhormat dalam kebanggan sebagai suku orang~orang Ainu”. Tidak perlu diutarakan lagi bahwa pentingnya menjalankan usaha yang pasti meningkatkan orang~orang yang dapat berbahasa Ainu dan mengembangkan serta mewarisi kebudayaan Ainu melebihi pernyataan yang terdapat dalam UU tersebut.

『Tembikar』

Mengapa tembikar menarik hati orang zaman modern? Adakah lantaran sejalan dengan evolusi peradaban, dimana mesinisasi kehidupan menjadi~jadi yang menyebabkan barang~barang sederhana dan elok dipandang seperti tembikar menjadi lenyap? Ataukah lantaran kita dapat meneropong budaya lama dan sejarah melalui tembikar? Ataukah bisa dirasakan pola kehidupan setiap daerah manakala memandangnya?

Sekarang dikatakan tembikar lagi jadi pusat perhatian diJepang. Sedari dulu orang yang tertarik kepada tembikar tidaklah sedikit, namun tidaklah sebanyak kini. Belakangan bertambah orang yang membuat piring atau jambangan bunga dengan mengadoni tanah liat, memutar jentera, dan menghiasinya dengan pola sendiri. Selain itu, orang yang bepergian menengok tempat pembakaran tembikar disetiap daerah pun meningkat.

Ada pula yang memperkirakan bahwa didunia boleh jadi bangsa yang paling menyukai tembikar adalah bangsa Jepang. Banyak orang asing menganggap bahwa lukisan dan pahatan bernilai lebih tinggi ketimbang seni kerajinan. Tetapi, di Jepang yang punya nilai seni tinggi juga disukai. Tambahan pula, tembikar yang digunakan sebagai barang keperluan sehari~hari dicintai karena kesederhanaan, bentuk yang bersahaja, warna, rasa sentuhan, dan sebagainya.

Seorang ahli tembikar Inggris menyatakan, Tembikar amat sederhana, namun amat sukar dipahami. Betul ~betul susah menentukan ketinggian nilai tembikar yang artsistik dengan menggunakan mata sendiri. Orang yang memiliki kemampuan mata begini disebut mekiki, yaitu mereka yang tidak hanya mengetahui jenis tembikar masa lalu yang terkenal dan nama penciptanya, tetapi juga dapat menerka siapa sang pencipta dengan melihat tembikar tersebut.
Tetapi, mengingat banyak orang Jepang yang amatir dalam mekiki, hal yang aneh adalah menganggap penting sesuatu yang jarang ada. Yakni, pentingnya tanda tangan sang pembuat tembikar. Dengan begini, pembuat keramik muda tidak berkembang bakatnya, dan kepopuleran tembikar menjadi terguyur air dingin. Sesuatu yang disayangkan.

About bambang7714

来年もいい事ありましょうに 今まで独身ですが早く結婚したいと思いました. Suka sekali dengan kebudayaan Jepang, dan saat ini saya mengajar sebagai guru bahasa Jepang di kota Surabaya. (電話番号=0315966492又 は=03171744155/085655445177). Untuk yang ingin mengambil jurusan sastra jepang dapat belajar bahasa jepang dari dasar. Pembukaan les privat atau group untuk siswa smp~kuliah dan umum dimulai hari senin~hari sabtu. Dari pukul 9:00~20:00.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s